Back

Postmortem Jaringan GDG DevFest Jakarta 2026

November 2, 2026

Razan Razan Hanif Hanif Samu Samu Eric Julianto Eric Julianto

✨ Special post: ditulis bareng berempat oleh tim networking.

Postmortem Jaringan GDG DevFest Jakarta 2026 oleh Razan, Hanif, Samu, dan Eric

Tulisan ini spesial, karena ditulis bareng berempat. Minggu, 1 November 2026 kemarin kami, Razan, Hanif, Samu, dan Eric, kebagian pegang jaringan di GDG DevFest Jakarta 2026 di TMII. Bahkan sejak acara masih berjalan, ada satu pertanyaan yang terus muncul, baik dari panitia lain, dari peserta, maupun dari kami sendiri:

"Wi-Fi workshop-nya kenapa sih?"

Jawaban singkatnya: internetnya aman, router-nya aman, yang kalah itu udaranya. Jawaban panjangnya ada di tulisan ini. Kami susun dari grup WhatsApp tim, data monitoring, dan log router. Postmortem ini blameless ya, tujuannya belajar, bukan nyari siapa yang salah.

Selamat membaca!

Background

Persiapannya mulai dari 18 Oktober, dua minggu sebelum hari H. Dari riset kecil-kecilan, estimasi peserta ada di sekitar 2.000 orang. Prioritas utamanya jelas dari awal: Wi-Fi yang kuat untuk 200 peserta workshop per sesi, dengan 4 sesi sepanjang hari.

Setup akhirnya kurang lebih seperti ini:

  • Internet dari Telkom Astinet dengan port 1 Gbps.
  • Core router MikroTik CCR2004-16G-2S+ dengan RouterOS 7.12.1.
  • Wi-Fi pakai Ruijie, 7 access point dan 3 switch, dipasang dan dikelola bareng tim vendor lewat Ruijie Cloud.
  • Jaringan dipecah per VLAN: Attendee, Workshop, Stage, Crew, Social Network, Registration, dan Merchandise. Masing-masing punya jatah bandwidth, misalnya Workshop dijamin 300 Mbps dan maksimal 700 Mbps.
  • Attendee masuk lewat hotspot dengan voucher, 20 Mbps per orang, subnet /20 (4.093 alamat). Speaker punya voucher sendiri dengan jatah 100 Mbps.

Ada satu kalimat dari diskusi hari pertama yang ternyata jadi ramalan:

"Jangan ada yang keluarkan sinyal Wi-Fi satupun demi kestabilan Wi-Fi bersama."

Ingat-ingat kalimat ini ya, nanti dia balik lagi😅

H-1: Sampai Jam 2 Pagi

Sabtu, 31 Oktober, tim mulai berdatangan ke TMII sekitar jam 3 sore, disambut hujan. Dari sini daftar "belum"-nya panjang:

  • Kabel Telkom sudah ada di atas FOH, tapi listrik di FOH belum ada. Baru nyala sekitar jam 7 malam.
  • Jam 9 malam internetnya masih belum sesuai. Kata tim di lapangan, Telkom masih "nunggu dari upstream". Kami cuma bisa colek AM-nya sambil kirim stiker nangis 😭
  • Lewat tengah malam, AP masih dikonfigurasi. Halaman login hotspot dan voucher baru disiapkan sekitar jam 1 pagi.
  • Jam 1.30 akses remote via Tailscale berhasil, jadi router dan laptop monitoring bisa dipantau dari hotel.
  • Jam 2.30 baru dapat akses ke Ruijie Cloud. Awalnya cuma read-only, lalu dikasih full dengan janji "kalau ada perubahan, woro-woro di grup".
  • Jam 3 pagi rencana bandwidth per SSID difinalisasi, dan diputuskan subnet attendee pakai /20 karena peserta bisa connect dari laptop sekaligus HP.

Monitoring-nya sendiri jalan di laptop Eric yang ditinggal di venue semalaman. Sambil pulang Eric sempat nyeletuk, "harusnya bawa homelab atau STB"🤣

Monitoring

Prinsip kami sederhana, kalau mau debugging di tengah event, kita harus punya data. Kalau nggak ada data, yang ada cuma nebak-nebak. Stack-nya jalan pakai rootless Podman:

  • mktxp sebagai exporter yang narik metric dari MikroTik.
  • VictoriaMetrics buat nyimpan metric-nya.
  • Perses buat dashboard-nya, akhirnya jadi 45 panel di 8 section.

Pagi-pagi jam 8.31, dashboard yang tadinya cuma bisa dibuka di jaringan lokal tiba-tiba sudah ada di domain publik lewat Cloudflare Tunnel. "Gotta go fast" katanya. Reaksi Eric waktu itu cuma "WKWKWK ANJRIT, di laptop gue itu?" Hari itu memang playground dulu, lain kali bisa lebih profesional.

Dashboard Perses Live Operations Overview

Dashboard Perses, section Live Operations Overview, 1 November 03:00–24:00.


Timeline Hari H

Semua jam dalam WIB, Minggu 1 November:

JamKejadian
06:13Router reboot, sebelum pintu dibuka
07:11Ketahuan SSID voucher tertukar. SSID Ruijie pakai password langsung connect, nggak lewat voucher
07:25Dibuat 4 voucher workshop, satu per sesi, masing-masing bisa dipakai bareng-bareng
08:11SSID Workshop dibuka tanpa password, khusus area workshop
08:49Voucher speaker dibuat, 100 Mbps, maksimal 50 perangkat
09:44171 device terhubung
10:15Sinyal di belakang workshop lemah. Stok AP habis, akhirnya AP Merchandise digeser ke workshop
10:17Puncak trafik internet saat workshop mulai, sekitar 745 Mbps gabungan
10:31Ketemu Wi-Fi dari ONT Telkom dan hotspot-hotspot tersembunyi yang masih nyala
10:35Laporan halaman login nggak muncul di Microsoft Edge
10:40Workshop sudah berjalan. 347 device. Sayap kanan workshop nggak dapat sinyal
10:40–11:50Hotspot dibenahi di sisi router, sekitar 140 device di-login-kan manual
11:00–11:30Peserta workshop mulai masuk lewat SSID DevFest-Workshop_5G, yang ternyata ada di VLAN Crew. Pool Crew naik dari 57 ke 102 device
11:26Optimasi otomatis lewat aplikasi Ruijie dijalankan
11:45Device Apple dan laptop bermasalah di channel 5 GHz bawah
11:53Channel AP berubah-ubah sendiri. Channel dikunci manual, lebar 20 MHz, DFS dimatikan
12:12Mulai crimping kabel LAN buat yang laptopnya punya port
12:14Ketemu video transmitter wireless di area workshop
12:58Ternyata banyak laptop peserta yang nggak punya port LAN
13:17Video transmitter dimatikan
13:58Masih bottleneck, AP nggak sanggup ngangkat
14:12Posisi AP dipindah
15:43Client isolation dicoba, nggak ada perubahan
15:52Speedtest di workshop 5,4 Mbps. Wi-Fi crew di stage ikut kena

By the Numbers

  • Total internet sehari: 230,8 GB download dan 146,1 GB upload.
  • Puncak per 1 menit: 437 Mbps download (09:59) dan 516 Mbps upload (10:17). Kalau dirata-rata per 2 menit, puncaknya 281 / 300 Mbps.
  • Internet putus: 0 kali.
  • CPU router rata-rata 4%, paling tinggi 35%.
  • Attendee: puncak 114 user login hotspot dan 434 device dapat IP, baru 10,6% dari kapasitas subnet.
  • Semua AP dan switch Ruijie online terus selama dimonitor.
Dashboard Perses: WAN throughput dan sinyal error

Trafik internet, trafik per voucher hotspot, dan sinyal error sepanjang hari. Error dan drop di interface hampir nol.


Dashboard Perses: alokasi DHCP per pool

Alokasi IP per jaringan. Attendee memuncak di 434 device jam 11.52, pool Crew sempat terisi 75% (190 dari 253) jam 13.03, sebagian besar peserta workshop lewat SSID Workshop 5G.


Jadi dari kacamata router, harinya kelihatan sehat-sehat saja. Padahal di ruang workshop, speedtest-nya cuma dapat 5,4 Mbps. Di sinilah pelajaran terbesarnya.

Oh iya, coba tebak jaringan siapa yang paling boros? Crew, 94,8 GB, hampir 3x lipat dari seluruh attendee digabung. Sempat kami kira crew-nya yang rakus, ternyata bukan. SSID DevFest-Workshop_5G masuk ke VLAN Crew, jadi peserta workshop ikut terhitung di sana. VLAN Workshop sendiri sepanjang hari cuma kebagian 0,28 GB. Pelajaran kecil: nama SSID dan nama VLAN harus nyambung, biar angkanya nggak menipu😅

Puncak bandwidth WAN 745 Mbps saat workshop mulai

What Went Wrong

1. Workshop kalah di udara

Ini insiden utamanya. Router dan internet aman, tapi peserta workshop nggak bisa kerja. Penyebabnya numpuk:

  • AP kurang. Sinyal di belakang dan di sayap kanan workshop lemah. Mau nambah AP, stoknya habis: bawa lebih 2, satu dipakai Merchandise, satu lagi error. Akhirnya AP Merchandise yang digeser.
  • Banyak pemancar lain. Wi-Fi dari ONT Telkom masih nyala, ditambah hotspot HP yang disembunyikan.
  • Channel berubah-ubah sendiri. Channel AP masih auto, lalu optimasi otomatis dijalankan. Hasilnya channel pindah-pindah di tengah sesi, client putus-sambung. Setelah dikunci manual di 20 MHz dengan DFS dimatikan, mulai lebih tenang.
  • Kompatibilitas client. Device Apple rewel di channel 5 GHz bawah (UNII-1), dan sebagian laptop nggak bisa pakai channel 5 GHz tertentu yang bisa dipakai HP Android.

Data dari Ruijie Cloud bilang hal yang sama. Grafik Wi-Fi Experience mulai didominasi merah sejak sekitar jam 10.30 dan bertahan sampai sore, dengan kategori Capacity and Interference yang paling bermasalah. Service level-nya cuma tercapai 20%. Penyebab pengalaman buruk menurut Ruijie:

  • Paket multicast berlebihan: 33,32%
  • Interferensi 802.11 (sesama Wi-Fi): 29,40%
  • Interferensi non-802.11 (perangkat non-Wi-Fi): 28,08%
  • Terlalu banyak user di satu AP: 4,60%
  • Trafik jaringan berat: 4,59%

Jadi lebih dari 90% masalahnya ada di udara dan multicast, bukan karena bandwidth habis. Kalau masalahnya beban, dua poin terakhir harusnya yang paling besar.

Ruijie Cloud Wi-Fi Experience: dominan merah sejak 10.30

Wi-Fi Experience di Ruijie Cloud. Merah = pengalaman buruk. Nama device di Traffic Ranking disembunyikan.


Pembagian channel-nya juga kelihatan numpuk. Di 5 GHz, 4 AP ada di channel 149 yang sama, dua di 157, dan cuma satu di 36. Di 2,4 GHz, channel 1 dan 11 masing-masing dipakai dua AP dengan status overload, ditambah satu AP di channel 7 yang tumpang tindih dengan channel 6 dan 11. AP yang numpuk di channel yang sama harus gantian bicara, jadi makin banyak AP malah bisa makin pelan.

Ruijie Cloud channel usage 2,4 GHz dan 5 GHz

Pemakaian channel per AP. Hijau = strong, oranye = busy, merah = overload.


2. Plot twist: video transmitter

Jam 12.14, Hanif foto sebuah alat di dekat meja FOH workshop, dengan 4 antena berdiri di atas tiang. Itu video transmitter wireless milik tim dokumentasi, buat kirim gambar kamera tanpa kabel. Dicek spesifikasinya: tri-band 2,4 GHz, 5 GHz (termasuk DFS), dan 6 GHz. Persis di frekuensi yang sama dengan Wi-Fi kami, dan posisinya persis di ruangan yang paling butuh Wi-Fi.

Di laptop peserta, sinyal Wi-Fi-nya sebenarnya bagus (RSSI -56 dBm), tapi noise-nya -65 dBm. Jaraknya cuma 9 dB, akibatnya Tx Rate cuma 13 Mbps di MCS 1, padahal itu 802.11ac. Ingat kalimat "jangan ada yang keluarkan sinyal Wi-Fi satupun" tadi? Nah 😅

Wi-Fi diagnostics laptop peserta: RSSI -56 dBm, noise -65 dBm

Transmitter-nya nggak bisa langsung dimatikan, karena dipakai buat kamera. Setelah dinegosiasikan dengan opsi kamera cukup merekam saja, jam 13.17 transmitter dimatikan. Tapi masalahnya belum selesai. Jam 13.58 masih bottleneck. Burst yang kami set 500 Mbps nggak pernah tercapai karena AP-nya memang nggak sanggup ngangkat. Jam 15.52 speedtest di workshop masih 5,4 Mbps.

Video transmitter wireless di FOH workshop

3. Rencana cadangan pakai LAN

Kabel to the rescue! Jam 12-an kami mulai crimping kabel LAN. Masalahnya, banyak laptop peserta zaman sekarang nggak punya port LAN, dan kami nggak bawa USB LAN adapter sebanyak itu. Padahal ide sediain adapter ini sudah sempat dibahas tanggal 21 Oktober.

4. Voucher dan SSID
  • Pagi hari ketahuan SSID-nya tertukar. SSID Ruijie yang pakai password langsung connect ke internet tanpa lewat voucher. Akhirnya disederhanakan jadi 4 voucher workshop, satu per sesi, dan SSID dibuka tanpa password.
  • Kami juga sempat bingung mekanisme bagi vouchernya ke peserta, sampai muncul usul "request ke registrasi aja, sekalian jadi help desk".
5. Hotspot

Di sisi router, hotspot juga punya masalah sendiri, dan ini dibenahi antara 10.40 sampai 11.50:

  • Halaman login yang muncul otomatis di HP nggak menjalankan JavaScript, padahal CHAP butuh JS. Solusinya tambah metode login http-pap.
  • Limit DNS bawaan MikroTik cuma 100 query bersamaan, kekecilan buat ratusan HP yang join barengan. Kami naikkan jadi 1000.
  • mac-cookie belum aktif, jadi device yang putus nggak bisa login otomatis. Sekitar 140 device akhirnya di-login-kan manual dari router.
  • Laptop Windows dan Edge sering nggak memunculkan halaman login, karena portal kami pakai meta refresh, bukan HTTP 302, dan nggak ada sertifikat TLS. Solusi sementaranya buka http://neverssl.com.
  • Burst time sempat diubah karena dikira itu lamanya burst. Ternyata burst time itu window rata-rata. Dari idle, burst 850 Mbps cuma tahan sekitar 15M × 300s ÷ 850M ≈ 5 detik.
6. Banyak tangan di config yang sama

Router dan controller Ruijie dipegang beberapa orang dari beberapa tim sekaligus. Akibatnya ada perubahan yang saling tabrakan:

  • Profile hotspot diubah oleh dua sesi berbeda, selisih 2 detik, sebelum disconnect massal. Harus dibalikin lagi.
  • Ada rule NAT yang membelokkan DNS ke 1.1.1.1 di atas rule hotspot. Efeknya attendee yang belum login nggak dapat DNS, jadi halaman login nggak muncul.
  • Ada queue TEST 300 Mbps untuk subnet Crew, subnet yang sama dengan peserta workshop di SSID Workshop 5G. Efeknya, sejak 11.35 trafik di subnet itu keluar dari limit total event.
  • Ada login admin ke router lewat MAC-Winbox dari Wi-Fi attendee, karena MAC-Winbox masih terbuka di semua interface.

Nggak ada niat jahat di sini, semua orang sedang berusaha benerin sesuatu. Masalahnya cuma satu: kurang woro-woro. Siangnya kami sampai bikin aturan, "tektokan channel di grup ini aja ya, biar ke-notice".

7. VLAN dan hardware
  • VLAN Social Network dan Merchandise nggak dibawa sampai ke router. Waktu trunk di-sniff, VLAN 80 = 0 frame dalam 8 detik, sementara VLAN 20 dapat 83 frame dalam 3 detik. VLAN ID Merchandise di router juga ternyata salah, 50 harusnya 100.
  • PSU1 router mati seharian, jadi router jalan tanpa cadangan power.
  • Port berlabel RESERVED-DISABLED ternyata aktif dan membawa 228 GB.
  • Pool IP Crew sempat terisi 75%, karena peserta workshop ikut masuk ke VLAN Crew.
Speedtest Fast.com 5,4 Mbps di area workshop

What Went Right

  • Internet dan router nggak pernah jadi bottleneck. Nol kali putus, CPU paling tinggi 35%, pool attendee baru terpakai 10,6%.
  • Timnya. Ditinggal listrik, ditinggal internet, kerja sampai jam 2 pagi, lalu balik lagi pagi-pagi.
  • Grup WhatsApp jadi pusat koordinasi. Semua temuan dilempar ke grup lengkap dengan foto dan screenshot, dan itu juga yang bikin postmortem ini bisa ditulis.
  • Debugging pakai eliminasi. Dari ONT Telkom, hotspot tersembunyi, channel auto, sampai akhirnya ketemu video transmitter. Satu per satu dicoret.
  • Monitoring kepakai beneran. Queue yang bocor, port yang harusnya mati, dan gap data semuanya ketahuan dari dashboard. Datanya juga sudah di-export sebelum retensi 30 hari habis.
  • Hotspot beres dalam sekitar 1 jam. Jam 11.50 ada 101 user login dan 0 yang nunggu.

Lessons Learned

Router yang sehat belum tentu Wi-Fi yang sehat. Masalah terbesar hari itu ada di udara, bukan di kabel.

Ini catatan buat kami sendiri, dan mungkin berguna juga buat kamu yang pegang jaringan event:

  • Inventaris semua pemancar sebelum hari H. Bukan cuma hotspot peserta, tapi juga video transmitter, mic wireless, ONT, dan perangkat vendor lain. Koordinasi dengan tim dokumentasi dan produksi sejak awal.
  • Survei RF di ruangan yang paling penting. Ukur noise dan cek channel yang kosong, jangan cuma lihat bar sinyal.
  • Bawa AP cadangan lebih banyak. Lebih 2 itu nggak cukup kalau satu error.
  • Kunci channel dari awal. Matikan auto channel dan optimasi otomatis selama event, pakai 20 MHz, hindari DFS dan channel yang bikin device Apple rewel.
  • Rencanakan channel per AP. Di 2,4 GHz cuma pakai 1, 6, dan 11. Di 5 GHz sebar AP ke channel berbeda, jangan sampai 4 AP numpuk di satu channel.
  • Batasi multicast dan broadcast di SSID peserta. Ini penyebab nomor satu versi Ruijie, di atas interferensi.
  • Untuk workshop, LAN itu bukan cadangan, tapi rencana utama. Siapkan USB LAN adapter, karena banyak laptop sekarang nggak punya port LAN. Seperti kata Hanif di akhir acara, "Invest Belden".
  • Internet harus siap jauh sebelum H-1 malam. Begitu juga listrik di FOH.
  • Satu config, satu pemegang. Kalau mau ubah sesuatu, umumkan dulu di grup. Akses admin dibatasi, MAC-Winbox cuma dari jaringan management.
  • Checklist hotspot: login cookie, http-chap, http-pap, mac-cookie, limit DNS dinaikkan, portal pakai HTTP 302, dan voucher tanpa karakter yang mirip.
  • Tes end-to-end sebelum pintu dibuka. Connect satu device ke setiap SSID dan VLAN, pastikan dapat IP dan internet.
  • Monitoring jangan di laptop pribadi. Pakai mini PC atau homelab yang memang ditinggal di venue, dan dapatkan akses penuh ke controller vendor sebelum event.
Soal setup pakai cara agentic

Sebagian besar setup dan troubleshooting kemarin kami kerjakan dengan cara agentic: AI agent di terminal laptop ops yang bisa SSH ke router, nulis config, bikin dashboard, sampai nyusun laporan harian dari data monitoring. Cepat banget, tapi ada beberapa catatan yang mau kami bawa ke event berikutnya:

  • Agent bisa salah dengan percaya diri. Penjelasan awal soal burst time itu salah dan baru dikoreksi belakangan. Cek ke dokumentasi resmi sebelum perubahan masuk ke production.
  • Aksi berisiko tetap lewat persetujuan manusia. Disconnect massal dan login device dari router selalu ditanya dulu. Usulan mengubah rule DNS yang dibuat tim lain pun kami tolak.
  • Satu config, satu sesi. Profile hotspot yang ketimpa dalam 2 detik itu datang dari dua sesi berbeda di laptop yang sama. Kalau jalanin beberapa agent atau sesi sekaligus, pastikan nggak pegang resource yang sama.
  • Mulai dari read-only. Investigasi dulu, baru ubah. Waktu ada percobaan ubah template portal, untungnya ditolak validasi RouterOS sebelum sempat diterapkan.
  • Jangan tempel secret ke sesi agent. Ada token dan password yang sempat ke-share selama sesi, jadi semuanya harus dirotasi setelah acara.
  • Suruh agent mendokumentasikan saat itu juga. Catatan sesi, laporan harian, dan snapshot data ditulis waktu kejadian. Itu yang bikin postmortem ini bisa ditulis lengkap.

Baik, sekarang kita sudah di penghujung tulisan ini. Mungkin segitu dulu saja yang bisa kami bagikan tentang apa yang terjadi di balik Wi-Fi DevFest Jakarta 2026. Kalau kata salah satu pesan di grup malam itu: "Keos lagi, tapi well." Terima kasih buat seluruh panitia, tim vendor, dan tim dokumentasi yang sudah kerja bareng kami, dan buat teman-teman peserta workshop yang sabar banget. Semoga tahun depan "nggak lemot" yaa. Jika ada saran atau pertanyaan, silahkan DM ke salah satu dari kami yaa. Terima kasih sudah membaca!

Ditulis bareng oleh

Razan
Razan
Hanif
Hanif
Samu
Samu
Eric Julianto
Eric Julianto

Tim Networking GDG DevFest Jakarta 2026